Aku adalah seorang perempuan yang penuh cahaya. Hari-hariku menjadi nyanyian semangat, langkahku selembut embun yang jatuh di ujung fajar bening, ringan, dan tanpa beban. Mimpi-mimpiku berlarian jauh, menari di langit muda, dan aku mengejarnya dengan senyum yang tak pernah letih. Kala itu hidup adalah hamparan ladang harapan, luas, subur, dan penuh janji masa depan.

Aku masih ingat, kala aku berdiri di hadapan murid-muridku. Mata-mata kecil yang polos itu menatapku dengan rasa ingin tahu, seolah setiap kata dariku adalah rahasia kehidupan yang patut diserap. Aku menanam ilmu dengan tawa, menyiraminya dengan doa. Aku bukan siapa-siapa, hanya guru kecil tanpa nama, namun aku bangga karena setiap senyumku menjadi lentera, dan setiap tetes peluhku adalah persembahan bagi lahirnya generasi yang lebih baik.

Pernah pula aku duduk di balik meja bank swasta, berseragam rapi, menghitung angka-angka yang dingin namun menyapanya dengan hati yang hangat. Nasabah datang dan pergi, jam dinding berdetak pelan, sementara aku tetap menyambut dengan senyum tulus. Orang mengenalku sebagai perempuan yang kuat, tegas, dan berenergi perempuan yang menyalakan semangat meski dirinya sendiri tengah digempur oleh lelah. Saat itu, aku adalah kanvas yang penuh warna; hidupku dipenuhi guratan mimpi dan cita-cita, langkahku tegak, keyakinanku bulat bahwa dunia selalu ramah pada hati yang tulus.

Namun cahaya itu perlahan meredup. Seperti matahari yang tenggelam sebelum waktunya, aku terseret ke dalam senja yang muram. Pernikahan yang kukira akan menjadi dermaga tempatku bersandar, ternyata hanyalah papan rapuh yang menghanyutkanku ke lautan luka tak bertepi. Suami yang kuharapkan menjadi pelindung, justru menjelma badai yang memporak-porandakan jiwaku. Kata-katanya bagai petir yang menyambar; suaranya ombak yang menghantam karang hatiku. Aku tak pernah dipandang sebagai kawan hidup, hanya wadah untuk menampung ego dan amarahnya.

Hari-hariku kehilangan warna. Senyum yang dulu mudah terbit, kini kering di bibir. Energi yang dulu meluap, kini tersedot ke ruang hampa. Aku serupa bunga yang dipetik sebelum mekar, tangkai dan daunnya patah, lalu dibiarkan layu di dalam vas yang retak.

Enam tahun berlalu tanpa nafkah darinya. Enam tahun di mana aku menopang rumah seorang diri, sementara ia hanya menuntut. Tiga kali ia meminta motor, dan aku menuruti. Ia menuntut rumah, bukan demi keluarga, melainkan demi kesenangannya sendiri. Dan aku, dengan segala takut akan kekurangan anak-anakku, kembali mengorbankan diriku.

Namun luka itu semakin dalam bukan karena sekadar kelalaian, melainkan ada pula pengkhianatan yang ditulis atas namaku. Ia menabur utang tanpa izinku, menjerat masa depanku pada angka-angka yang melilit. Aku bekerja hanya untuk menutup jejak yang tak pernah kubuat, menggali lubang demi menutup lubang lain. Tenagaku terkuras, harapanku terkikis, sementara ia berjalan ringan, tak menoleh pada reruntuhan yang ditinggalkannya.

Tubuhku mulai rapuh, seperti rumah tua yang gentingnya runtuh satu demi satu. Nafasku tercabik enam tahun lamanya, kesehatanku merintih pucat, lemah, seolah tenaga ini tercabut perlahan dari akar hidupku. Kata lelah terlalu sederhana untuk menggambarkan kehancuran yang menenggelamkan.

Dan di malam-malam sunyi, aku menangis dalam doa. Aku memandang langit yang kadang terasa begitu jauh, berbisik lirih: Sampai kapan, Tuhan, aku harus kuat? Sampai kapan aku harus menahan semua ini? Ada desir harap yang ingin bebas, ingin bangkit, tapi hatiku terikat oleh dua cahaya kecil yang Kau titipkan padaku anak-anakku. Mereka menjadi alasan sekaligus belenggu.

Di persimpangan inilah aku berdiri, tersayat oleh pilihan yang menusuk: bertahan dalam gelap demi mereka, atau pergi mencari kembali cahaya yang pernah kupunya. Setiap jalan menuntut keberanian, dan aku masih mencarinya di sela doa, di antara air mata, dalam sepi yang tak pernah henti.